Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MAKALAH ETIKA KEPERAWATAN


BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Semua orang akan mengalami proses menjadi tua, dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Proses menjadi tua menggambarkan betapa proses tersebut dapat diinteferensi sehingga dapat mencapai hasil yang sangat optimal. Secara umum orang lanjut usia dalam meniti kehidupannya dapat dikategorikan dalam dua macam sikap. Pertama, masa tua akan diterima dengan wajar melalui kesadaran yang mendalam, sedangkan yang kedua, manusia usia lanjut dalam menyikapi hidupnya cenderung menolak datangnya masa tua, kelompok ini tidak mau menerima realitas yang ada (Hurlock, 1996 : 439).
1.2  Tujuan Penulisan

a.       Mendefinisikan pengertian lansia.
b.      Menjelaskan bagaimana ciri-ciri lansia
c.       Menjelaskan bagaimana perkembangan lansia
d.      Mendefinisikan hak-hak individu lansia
e.       Mendefinisikan Hak-hak individu yang akan meninggal
f.       Menyebutkan macam problem lansia.

1.3  Rumusan Masalah

a.       Apa pengertian lansia?
b.      Bagaimana Ciri-ciri lansia?
c.       Bagaimana Perkembangan Lansia?
d.      Apa Hak-hak individu Lansia?
e.       Apa Hak-hak individu yang akan meninggal ?
f.       Apa saja macam problem lansia?


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Apa Itu Lansia (Lanjut Usia)
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya.
Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses penuaan yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan bahwa setiap orang yang berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang berusia 56 tahun ke atas, tidak mempunyai penghasilan dan tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi kehidupannyasehari-hari.
Saparinah (1983) berpendapat bahwa pada usia 55 sampai 65 tahun merupakan kelompok umur yang mencapai tahap penisium, pada tahap ini akan mengalami berbagai penurunan daya tahan tubuh atau kesehatan dan berbagai tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-perubahan dalam hidupnya.
Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa lanjut usia merupakan periode di mana seorang individu telah mencapai kemasakan dalam proses kehidupan, serta telah menunjukan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan dengan waktu, tahapan ini dapat mulai dari usia 55 tahun sampai meninggal.
Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang homogen . Usia tua dialami dengan cara yang berbeda-beda.

2.2  Ciri-ciri Lansia
Menurut Hurlock (Hurlock, 1980, h.380) terdapat beberapa ciri-ciri orang lanjut usia,yaitu:
Usia lanjut merupakan periode kemunduran.
Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis. Kemunduran dapat berdampak pada psikologis lansia. Motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada lansia. Kemunduran pada lansia semakin cepat apabila memiliki motivasi yang rendah, sebaliknya jika memiliki motivasi yang kuat maka kemunduran itu akan lama terjadi.
Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas.
Lansia memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat oleh pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap lansia. Pendapat-pendapat klise itu seperti : lansia lebih senang mempertahankan pendapatnya daripada mendengarkan pendapat orang lain.Menua membutuhkan perubahan peran. Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan.
Penyesuaian yang buruk pada lansia. Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat lansia cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Karena perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk.

2.3 Perkembangan Lansia.
Usia lanjut merupakan usia yang mendekati akhir siklus kehidupan manusia di dunia. Usia tahap ini dimulai dari 60 tahunan sampai akhir kehidupan. Usia lanjut merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua, dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Untuk menjelaskan penurunan pada tahap ini, teradapat berbagai perbedaan teori, namun para pada umumnya sepakat bahwa proses ini lebih banyak ditemukan oleh faktor gen. Penelitian telah menemukan bahwa tingkat sel, umur sel manusia ditentukan oleh DNA yang disebut telomere, yang beralokasi pada ujung kromosom. Ketentuan dan kematian sel terpicu ketika telomere berkurang ukuranya pada ujung kritis tertentu.

2.4  Hak-Hak Individu Lansia
Termasuk kelompok lansia adalah orang yang berusia lebih dari 65 tahun. Seseorang yang ayng berusia lebih dari 65 tahun, pada umumnya tidak dapat melanjutkan kegiatan dan minatnnya sebagai mana mestinya karena terjadinya perubahan-perubahan fsiologis. Hal ini dapat mengakibatkan lansia menyadari kehilanganya kemampuannya, merasa makin tergantung pada orang lain, sulit menerima kenyataan; namun, adajuga lansia yang sudah jauh-jauh hari sebelumnya mempersiapkan dirinya secara mental dengan menekuni hobi sehingga masalah yang mungkin terjadi sudah dapat di antisipasi
Kemunduran yang terjadi pada lansia dapat terlihat pada :
1.      Fungsi panca indra yang menurun
2.      Keterampilan motorik berkurang
3.       Keterampilan koordinasi motorik (refleks) berkurang
4.       Kemampuan intelektual yang sebenarnya mungkin dapat dipertahankan lebih lama.
Karena proses kemunduran tersebut, sebagian besar lansia mengalami perubahan-perubahan kepribadian, seperti:
1.      Kurang sabar dalam menghadapi sesuatu;
2.       Cepat marah atau tersinggung
3.       Keras kepala dalam mempertahankan kemauannya;
4.       Tidak mau mengikuti apa yang harus dilkukannya, walaupun demi kepentingan dirinya sendiri.
5.       Tetap merasa tidak tergatung secara mental kepada orang lain;
6.       Mudah teringgung dan sedih apabila dianggap menjadi beban orang lain, misalnya pada muda dulu, ia merupakan orang penting dan mempunyai wewenang dan tanggung jawab yang besar.
7.      Merasa kesepian dan terkadang menderita gangguan mental.
Hal ini terlihat ketika ia tidak mau berbicara dan tidak kooperatif.
Berdasarkan hal-hal di atas, perawat perlu mengetahui hak-hak mereka, yaitu sebagai berikut:
1.       Hak untuk diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai harga diri dan martabat.
2.       Hak menikmati kehidupan pada masa tua, tanpa tekanan.
3.      Hak mendapat perlindungan dari keluarga dan instansi yang berwenang.
4.       Hak mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal.
5.       Hak untuk tinggal di lingkungan keluarga atau panti, bila ia menginginkannya
6.       Hak memperoleh pendidikan yang dibutuhkan untuk menghabiskan sisahidupnya misalnya pendidikan agama dan sebagainya
7.       Hak berkreasi dan mengatur hobinya, bila diingininkan.
8.       Hak untuk dihargai dan menghargai dirinya dan orang lain.
9.       Hak menerima kasih sayang dari anak, keluarga, dan masyarakat.

2.5  Hak-hak Individu yang Akan Meninggal
1.Hak diperlakukan sebagaimana manusia yang hidup sampai ajal tiba.
2.Hak mempertahankan harapannya, tidak peduli apapun perubahan yang terjadi.
3.Hak mendapatkan perawatan yang dapat mempertahankan harapannya, apapun perrubahan yang terjadi.
4.Hak mengekspresikan perasaan dan emosinya sehubungan dengan kematian yang sedang dihadapinya.
5.Hak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan perawatannya.
6.Hak memperoleh perhatian dalam pengobatan dan perawatan secara berkesinambungan, walaupun tujuan penyembuhannya harus diubah menjadi tujuan memberikan rasa nyaman.
7.Hak untuk tidak meninggal dalam kesendirian.
8.Hak untuk bebas dari rasa sakit.
9.Hak uuntuk memperoleh jawaban atas pertanyaannya secara jujur.
10.Hak untuk memperoleh bantuan perawat atau medis untuk keluarga yang ditinggalkan agar dapat menerima kematiannya.
11.Hak untuk meninggal dalam damai dan bermartabat.
12.Hak untuk tetap dalam kepercayaan atau agamanya dan tidak diambil keputusan yang bertentangan dengan kepercayaan yang dianutnya.
13.Hak untuk memperdalam dan meningkatkan kepercayaannya, apapun artinya bagi orang lain.
14.Hak untuk mengharapkan bahwa kesucian raga manusia akan dihormati setelah yang bersangkutan meninggal.
15.Hak untuk mendapatkan perawatan dari orang yang professional, yang dapat mengerti kebutuhan dan kepuasan dalam menghadapi kematian.



2.6  Berbagai Macam Problem Lansia
Pikun
Kepikunan merupakan gangguan pada sel otak karena usia lanjut. Datangnya penyakit ini memang sulit dihindari. Bila sudah diderita, tidak bisa disembuhkan kembali. Tetapi kepikunan yang disebabkan gangguan pembuluh darah, seperti tekanan darah tinggi, jantung dan penyakit gula, bisa dihindari asalkan penyakit-penyakit ini dicegah sejak dini. Karena itu, pencegahan kepikunan sebaiknya dimulai dari meghindari penyakit gangguan pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi dan kencing manis.
Gangguan pembuluh darah bisa menyebabkan pemasokan darah ke otak berkurang. Hal ini bisa mempengaruhi mekanisme kerja sel otak. Padahal sel-sel saraf di otak sangat sensitive terhadap segala bentuk perubahan.
Penyumbatan pembuluh darah, kekurangan oksigen dan kekurangan zat gula bisa mempengaruhi bahkan mematikan sel otak.
TBC, epilepsy, gangguan saat persalinan juga bisa menyebabkan gangguan pada sel otak bayi. Gangguan ini bisa terus berlanjut dan pada saatnya menimbulkaan kepikunan jika yang bersangkutan sudah lanjut usia.Kebiasaan hidup seperti minum miras, pecandu morfin, juga dapat menimbulkan kepikunan.Karena itu, jika ingin menghindari kepikunan, maka mulailah dengan cara hidup yang sehat.

2. Proses menua terhadap pembuluh darah
Proses menua terjadi pada seluruh sel bahkan organ tubuh dan pembuluh darah. Pembuluh darah bertugas untuk mengantarkan darah dari jantung ke sleuruh tubuh, karena darah mengandung zat makanan, oksigen dan zat penting lainnya yang mengalir ke bagian tubuh yang memerlukannya. Pembuluh darah yang sangat halus merupakan tempat terjadinya pengaliran zat makanan ke jaringan tubuh serta berperan seperti pengatur tekanan darah.
Jika pembuluh darah dekat dengan jantung, maka peregangannya akan membesar akibat dari lapisan elastis yang ada pada pembuluh darah. Dengan bertambahnya usia, jaringan elastis ini akan makin berkurang.
Pembuluh darah akan mengalami perubahan jika terbentuk endapan lemak yang mengakibatkan permukaan pembuluh darah tidak mulus lagi dan akan menghambat aliran darah. Jika endapan lemak besar, maka akan terjadi peyempitan, akibatnya penyaluran makanan pada jaringan akan berkurang dan tekanan darah akan naik.
Proses menua akan berjalan lambat dengan disertai adanya gejala ketuaan, berupa rambut rontok, gigi tanggal, kulit keriput, dan daya adaptasi serta kelenturan akan semakin berkurang.
Perubahan yang terjadi pada pembuluh darah akan menyebabkan gangguan organ maupun naiknya tekanan darah. Perubahan tersebut akan dipercepat jika ada perubahan genetic (turunan)/pengaruh dari makanan, obat-obatan atau penyakit infeksi.
Proses menua ditandai dengan adanya kemunduran kemampuan motorik seperti melambatnya gerakan dan berkurangnya kekuatan tubuh yang mengakibatkan lambatnya gerakan fisik, berkurangnya kekuatan otot, berkurangnya kecepatan refleks, dan berkurangnya keseimbangan gerakan anggota bawah tubuh yang dapat menyebabkan seseorang mudah terjatuh.
3. Kemunduran fungsi saraf
Proses menua dialami sejak usia 30 dan di atas 60 tahun yang mulai menunjukkan masalah seperti gangguan fisik. Gejala tersebut dipengaruhi oleh factor-faktor tertentu, antara lain:
1. Faktor gizi
Masalah gizi bisa timbul karena gangguan pencernaan ketika masa pertumbuhan maupun masa tua. Gangguan tersebut sering terjadi sehubungan dengan masalah gizi yakni ketatnya seseorang dalam berdiet.
2. Faktor lingkungan
Akibat pengaruh dari keluarga, pekerjaan dan pergaulan dapat menekan pikiran seseorang dan berakibat terjadinya stress. Jika berlangsung dalam jangka lama, maka akan berakibat pada proses menua seseorang.
3. Faktor gen
Rambut beruban, gigi rontok, kelemahan tubuh dapat dialami seseorang pada usia muda akibat pengaruh dalam tubuh seseorang. Namun umumnya, gejala tresebut akan nampak pada usia 65 tahun.
Jika seseorang mengalami proses menua, maka kemampuan reaksinya terhadap rangsangan sensorik akan lambat, system refleks akan memanjang sehingga terjadi getaran-getaran pada tangan, kesulitan dalam melakukan gerakan sehingga mudah terjatuh, kesulitan dalam pengucapan kata-kata juga tidak jelas lagi, serta daya ingatnya terhadap kata-kata akan berkurang. Hal tersebut diakibatkan karena berkurangnya cairan otak dan jaringan otak.

Proses menua juga akan mempengaruhi susunan saraf otonom. Orang akan semakin sering buang air kecil terutama pada malam hari, kemampuan intelektual juga menurun serta akan kesulitan mempelajari sesuatu yang baru, namun pemahaman akan kosakata masih baik.
Jika daya ingat seseorang menurun, terutama mengenai hal-hal yang baru saja terjadi, maka selanjutnya mereka akan kesulitan untuk membedakan siang dan malam. Proses selanjutnya, mereka akan kesulitan mengetahui keberadaannya, bahkan pada akhirnya mereka tidak mengenal orang yang diajaknya bicara.
4. Penyakit yang timbul
Jika seseorang semakin tua, maka akan terjadi kemungkinan dengan bertambahnya penyakit seperti tekanan darah tinggi, rematik, kelumpuhan,diabetes mellitus, kanker, osteoporosis, katarak dan hipertrofi prostate.
Secara umum, ada beberapa penyakit yang timbul pada lansia, misalnya saja otot jantung menebal serta katub-katubnya akan menebal. Jika sebelumnya pernah mengalami kelainan jantung, maka keadaannya akan lebih parah. Pembuluh darah akan mengalami penyempitan, sehingga menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi. System endoktrin yang mengalami kelemahan juga akan menyebabkan penyakit gula dan penurunan organ seks pada pria. Gerakan dalam usus akan melambat dan cairan lambung untuk memproses makanan akan berkurang sehingga penyerapan akan menurun. Metabolisme pada makanan juga akan terganggu, sehingga tubuh lemah dan ,mudah terserang penyakit. Daya ingat seseorang juga akan mengalami penurunan, pendengaran, pengelihatan, alat kecap serta penciuman juga akan mengalami perubahan.
Banyak problem yang dapat timbul jika seseorang beranjak pada usia lansia. Sebaiknya kita berusaha menjaga tubuh agar kita tetap dalam kondisi yang sehat, yakni dengan berusaha menjaga pola makan yang baik dan bergizi. Ada beberapa tips untuk menjaga agar tubuh kita tetap sehat, antara lain :
1.              Jika memilih makanan, pilihlah makanan yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu merangsang, baik rasa asamnya, manisnya ataupun pedasnya. Hal ini terutama bagi yang memiliki penyakit tertentu.
2.               Perbanyaklah mengkonsumsi makanan yang yang mengandung gizi yang cukup seperti :
a.               .Vitamin A yang berguna untuk memelihara pengelihaatan yang terdapat dalam hati, ikan, telur mentega dan wortel.
b.              Vitamin C untuk memelihara kesehatan mulut terdapat pada sayuran dan buah-buahan.
c.                Fe yang bermanfaat membentuk hemoglobin darah, Ca dan P untuk pembentukan dan pemeliharaan kesehatan tulang dan gigi terdapat antara lain pada sayuran hijau (daun pepaya, daun singkong, kankung), susu sapi maupun susu yang tidak berlemak.
d.               Vitamin B12 berguna untuk membantu pembentukan butir-butir darah merah terdapat dalam hati, ikan, susu dan telur.
e.                Dianjurkan agar makan lebih sering dengan porsi yang lebih sedikit, perbanyaklah minum dan kurangi konsumsi yang mengandung garam. Agar kerja ginjal lebih ringan, maka perbanyaklah minum agar dapat memperlancar pengeluaran sisa-sisa makanan. Sedang garam yang terlalu banyak dikonsumsi, dikhawatirkan bisa menyebabkan hipertensi/tekanan darah tinggi.
f.                Menu makanan sebaiknya diperbanyak proteinnya, tetapi dikurangi karbohidrat dan lemaknya. Protein disini berguna untuk membangun sel-sel tubuh yang rusak. Protein ini terdapat pada susu, telur, keju, daging dan ikan.
Penganiayaan Terhadap Lansia
Pengniayaan terhadap lansia mengakibatkan cedera fisik atau penelantaran emosional  meliputi menentang keinginan lansia, mengintimidasi, atau membuat keputusan yang kejam. Penganiayaan terhadap lansia umumnya dilakukan oleh anak-anak mereka.

Penganiayaan Lansia Tindakan yang disengaja atau kelalaian terhadap lansia baik dalam bentuk malnutrisi, fisik/tenaga atau luka fisik, psikologis oleh orang lain yang disebabkan adanya kegagalan pemberian asuhan, nutrisi, pakaian, pengawasan, pelayanan medis,rehabilitasi dan perlindungan yang dibutuhkan.

Individu yang menganiaya lansia hampir selalu merupakan orang yang merawat lansia tersebut, atau lansia bergantung pada mereka dalam beberapa hal. Kebanyakan kasus penganiayaan lansia terjadi ketika salah satu lansia merawat pasangannya. Tipe penganiayaan pasangan ini biasanya terjadi selama bertahun-tahun setelah disabilitas membuat pasangan yang dianiaya tidak mampu merawat dirinya sendiri.

            Apabila penganiaya adalah anak yang sudah dewasa, anak lelaki memiliki kemungkinan dua kali lebih besar sebagai pelaku daripada anak perempuan. Penganiayaan lansia juga dapat diperburuk oleh gangguan jiwa atau penyalahgunaan zat yang dialami orang yang merawat lansia (Goldstein, 2000). Lansia sering kali enggan melaporkan penganiayaan yang dialaminya walaupun mereka dapat melakukannya karena biasanya hal itu melibatkan anggota keluarga yang ingin dilindunginya.

 Korban juga sering takut kehilangan dukungan mereka dan dipindahkan ke suatu institusi. Tidak ada perkiraan secara rasional jumlah kasus penganiayaan lansia yang tinggal di institusi secara nasional. Di bawah mandat pemerintah federal tahun 1978, petugas penyelidik diizinkan mengunjungi nursing home untuk memeriksa praktik perawatan lansia. Petugas penyelidik tersebut tetap melaporkan bahwa penganiayaan lansia bisa dilakukan di institusi (Goldstein, 2000).

 Gambaran klinis Korban dapat mengalami memar atau fraktur, tidak memiliki kacamata atau alat bantu dengar yang mereka butuhkan, tidak mendapatkan makanan, cairan, atau obat-obatan, atau mungkin direstrein di kursi atau tempat tidur. Penganiayaan dapat menggunakan sumber finansial korban untuk kesenangannya sendiri, sementara lansia tidak dapat membeli makanan atau obat-obatan. Perawatan medis itu sendiri tidak diberikan kepada lansia yang menderita penyakit akut atau kronis.

Pengabaian diri ialah kegagalan lansia untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Pengkajian Pengkajian yang cermat tentang lansia dan hubungan dengan orang yang merawat lansia sangat penting dalam mendeteksi penganiayaan lansia. Sering kali sulit menentukan apakah kondisi lansia disebabkan oleh deteriorasi yang terkait dengan penyakit kronis atau akibat penganiayaan. Ada beberapa indikator potensial tindakan penganiayaan yang memerlukan pengkajian lebih lanjut dan evaluasi memerlukan pengkajian lebih lanjut dan evaluasi yang cermat.

 Penganiayaan harus dicurigai jika ada cedera yang disembunyikan atau tidak diobati, atau cedera yang tidak sesuai dengan penjelasan yang diberikan. Cedera tersebut dapat mencakup luka terpotong, laserasi, luka tusuk, memar atau bilur, atau luka bakar. Luka bakar dapat berupa luka akibat sundutan rokok, luka akibat siraman asam atau bahan kaustik, atau luka akibat friksi pada pergelangan tangan atau pergelangan kaki karena direstrein dengan tali, kain, atau rantai.

 Tanda-tanda pengabaian fisik berupa bau pesing atau bau tinja yang menyebar, terlihat kotor, terdapat ruam, luka, kutu, atau pakaian yang tidak adekuat. Dehidrasi atau kurang gizi yang bukan karena penyakit tertentu juga merupakan indikator kuat adanya penganiayaan. Indikator penganiayaan emosional atau psikologis yang mungkin antara lain lansial yang ragu-ragu berbicara terbuka kepada perawat atau terlihat takut, menarik diri, depresi, dan tidak berdaya.

Lansia juga dapat memperlihatkan kemarahan atau agitasi karena alasan yang tidak jelas. Ia mungkin menyangkal adanya masalah walaupun fakta menunjukkan sebaliknya. Indikator pengabaian diri yang mungkin berupa ketidakmampuan mengatur keuangan (mengumpulkan uang atau menghamburkan uang padahal tidak dapat membayar tagihan), ketidakmampuan melakukan aktivitas hidup sehari-hari (perawatan diri, berbelanja, menyiapkan makanan, dan kebersihan), dan perubahan fungsi intelektual (bingung, disorientasi, respons yang tidak tepat, kehilangan memori, dan isolasi).

Indikator pengabaian diri yang lain meliputi tanda-tanda malnutrisi atau dehidrasi, ruam atau luka-luka pada tubuh, bau pesing atau bau tinja, atau tidak melakukan pemeriksaan medis yang diperlukan. Untuk mendiagnosis pengabaian diri, hasil evaluasi harus menunjukkan bahwa lansia tidak mampu mengatur kehidupan sehari-hari dan merawat dirinya sendiri. Pengabaian diri tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan keyakinan anggota keluarga bahwa lansia tidak dapat mengatur keuangannya. Misalnya, seorang lansia tidak dapat dianggap mengabaikan diri sendiri hanya karena ia menyerahkan sejumlah besar uang kepada suatu kelompok, menymbang, atau menginvestasikan uangnya di beberapa bisnis berisiko yang tidak disetujui anggota keluarga.





Tanda-tanda peringatan eksploitasi atau penganiayaan finansial antara lain banyak tagihan yang belum dilunasi (padahal klien memiliki cukup uang untuk membayarnya), transaksi perbankan yang tidak lazim cek yang ditandatangani oleh seseorang selain lansia, atau perubahan terbaru surat warisan atau pemberian kausa kepada pengacara saat lansia tidak mampu membuat keputusan tersebut.

 Lansia mungkin tidak mendapatkan kesenangan yang sebenarnya dapat ia peroleh, seperti pakaian, barang pribadi, atau televisi. Lansia mungkin melaporkan kehilangan barang-barang yang berharga dan melaporkan bahwa ia tidak berhubungan lagi dengan teman atau kerabatnya. Perawat juga dapat mendeteksi kemungkinan indikator penganiayaan dari orang yang merawat lansia.

 Orang tersebut mungkin mengeluh sulitnya merawat lansia atau mengeluh tentang inkontinensia, kesulitan dalam memberi makan, atau biaya pengobatan yang berlebihan. Orang ini mungkin memperlihatkan kemarahan atau tidak peduli terhadap lansia dan mencoba mencegah perawat berbicara berdua dengan lansia penganiayaan lansia lebih cenderung terjadi ketika orang yang merawat lansia memiliki riwayat kekerasan dalam keluarga atau masalah penyalahgunaan obat atau alkohol. Beberapa negara bagian memiliki undang-undang wajib lapor untuk penganiayaan lansia dan negara lain hanya memiliki undang-undang pelaporan sukarela. Perawat harus mengetahui undang-undang atau hukum tentang pelaporan kasus penganiayaan di negara bagian mereka sendiri.

Banyak kasus masih belum dilaporkan. Institusi setempat yang menangani lansia dapat menyediakan prosedur untuk pelaporan kasus penganiayaan sesuai dengan undang-undang negeri bagian. Untuk menemukan institusi setempat, hubungi pusat informasi nasional 1-800-677-1116. B. Terapi dan Intervensi Penganiayaan lansia dapat terjadi secara bertahap ketika beban pemberian perawatan melebihi sumber fisik atau emosional orang yang merawat. Dengan mengurangi stres orang yang merawat dan menyediakan sumber tambahan, dapat membantu memperbaiki situasi yang abusive sehingga hubungan pemberian perawatan tetap utuh. Pada kasus lain, pengabaian atau penganiayaan dilakukan dengan sengaja dan dirancang untuk memberikan manfaat personal untuk orang yang merawat, misalnya akses ke sumber finansial korban.

 Pada situasi seperti ini, lansia perlu dipindahkan atau orang yang merawat lansia dipindahkan. Indikator Penganiayaan Lansia Yang Mungkin Indikator penganiayaan fisik
a. Adanya cedera yang tidak dapat dijelaskan dan sering disertai kebiasaan mencari bantuan medis dari berbagai tempat
b. Enggan mencari terapi medis untuk cedera atau menyangkal adanya cedera
c. Disorientasi atau grogi, yang menunjukkan penyalahgunaan obat-obatan
d. Takut atau gugup ketika ada anggota keluarga yang merawat Indikator penganiayaan psikologis atau emosional
a. Tidak berdaya
b. Ragu-ragu untuk berbicara terbuka
c. Marah atau agitasi
d. Menarik diri atau depresi Indikator penganiayaan finansial
a. Transaksi perbankan yang tidak lazim atau tidak tepat
b. Tanda tangan pada cek yang berbeda dari tanda tangan lansia
c. Perubahan terbaru surat warisan atau pemberian kuasa pada pengacara ketika lansia tidak mampu membuat keputusan tersebut
d. Kehilangan barang berharga yang bukan hanya karena salah meletakkan
e. Tidak memiliki televisi, pakaian, atau barang pribadi yang dapat diperoleh dengan mudah
f. Kekhawatiran orang yang merawat lansia yang tidak lazim tentang biaya pengobatan biaya pengobatan lansia padahal bukan uang orang yang merawat tersebut yang digunakan Indikator Pengabaian
a. Terlihat kotor, bau pesing atau bau tinja, atau hal lain yang membahayakan kesehatan di lingkungan hidup lansia
b. Ada ruam, luka, atau kutu pada lansia
c. Lansia mengalami kondisi medis yang tidak diobati, kurang gizi, atau dehidrasi yang tidak berhubungan dengan suatu penyakit yang diketahui
d. Pakaian tidak adekuat Indikator pengabaian diri
a. Ketidakmampuan mengatur keuangan pribadi, misalnya mengumpulkan uang, menghamburkan uang, atau menyumbangkan uang padahal tidak dapat membayar tagihan
b. Ketidakmampuan mengatur aktivitas hidup sehari-hari, misalnya perawatan diri, berbelanja, pekerjaan rumah tangga
c. Keluyuran, menolak penanganan medis yang dibutuhkan isolasi, penggunaan zat
d. Tidak melakukan pemeriksaan medis yang diperlukan
e. Bingung, kehilangan memori, tidak responsif
f. Tidak memiliki fasilitas toilet, tinggal di tempat yang terdapat banyak hewan penyebar penyakit Indikator peringatan dari orang yang merawat
a. Lansia tidak diberi kesempatan untuk berbicara, menerima kunjungan, atau bertemu seseorang tanpa kehadiran orang merawat
b. Sikap tidak peduli atau marah terhadap lansia
c. Menyalahkan lansia karena keterbatasan atau penyakitnya
d. Sikap defensif
e. Selalu bertentangan ketika membicarakan kemampuan, masalah, dan hal lain tentang lansia
f. Riwayat sebelumnya tentang penganiayaan atau masalah penyalahgunaan alkohol atau obat Tanda-Tanda Peringatan pada Anak Yang Mengalami Penganiayaan/Pengabaian
1. Cedera serius seperti fraktur, luka bakar, dan laserasi tanpa ada laporan riwayat trauma
2. Menunda mencari terapi untuk cedera yang berat
3. Anak atau orang tua menjelaskan riwayat cedera yang tidak sesuai dengan tingkat keparahan cedera, misalnya bayi yang mengalami cedera contre-coup pada otaknya (shaken baby syndrome), yang dinyatakan orang tua terjadi karena bayi jatuh dari sofa
4. Riwayat anak yang dijelaskan selama evaluasi tidak konsisten atau berubah-ubah baik oleh anak itu sendiri ataupun orang tuanya
5. Cedera yang tidak lazim untuk usia dan tingkat perkembangan anak, misalnya fraktur femur pada anak usia dua bulan atau dislokasi bahu pada anak usia dua tahun
6. Insiden infeksi saluran kemih tinggi, genital memar, merah, atau bengkak, rektum atau vagina robek atau memar
7. Terdapat bekas luka yang tidak dilaporkan, misalnya jaringan parut, fraktur yang tidak diobati, banyak memar yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat oleh orang tua/pengasuh











BAB III
PENUTUP
3.1   Simpulan
1.              Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya.
2.               Ciri-ciri Lansia
a. Usia lanjut merupakan periode kemunduran.
b. Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas.
c. Penyesuaian yang buruk pada lansia.
3.               Perkembangan Lansia
Usia tahap ini dimulai dari 60 tahunan sampai akhir kehidupan, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan social. Penelitian telah menemukan bahwa tingkat sel, umur sel manusia ditentukan oleh DNA yang disebut telomere, yang beralokasi pada ujung kromosom. Ketentuan dan kematian sel terpicu ketika telomere berkurang ukuranya pada ujung kritis tertentu.
4.               Hak-Hak Individu Lansia
a. Hak untuk diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai harga diri dan martabat.
b. Hak menikmati kehidupan pada masa tua, tanpa tekanan.
c. Hak mendapat perlindungan dari keluarga dan instansi yang berwenang.
d. Hak mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal.
e. Hak untuk tinggal di lingkungan keluarga atau panti, bila ia menginginkannya
f. Hak memperoleh pendidikan yang dibutuhkan untuk menghabiskan sisahidupnya misalnya pendidikan agama dan sebagainya
g. Hak berkreasi dan mengatur hobinya, bila diingininkan.
h. Hak untuk dihargai dan menghargai dirinya dan orang lain.
i. Hak menerima kasih sayang dari anak, keluarga, dan masyarakat.
5. Problem Lansia
a. Pikun
b. Proses menua terhadap pembuluh darah
c. Penyakit yang timbul
d. Kemunduran fungsi saraf


3.2  Saran
Lanjut usia adalah masa dimana manusia mengalami kemunduran fisik mental dan social. Karna itu harus menghargai dan menghormati mereka karena mereka butuh perhatian lebih, karena kita juga akan menghadapi masa itu, untuk menghadapi masa itu kita butuh persiapan untuk menjalaninya, tanpa persiapan kebosanan yang akan kita dapat. Jadi persiapkan lah masa tua kita sebaik mungkin.



















DAFTAR PUSTAKA

Kozier, B., Erb G., Berman, A., & Snyder S. J. (2004). Fundamentalsof Nursing Concepts Process and Practice. (7th ed). New Jerney: Pearson Education Line.

Priharjo, R. (1995). Pengantar Etika Keperawatan. Yogyakarta: Kanisius.

Suhaemi, M.E. (2004). Etika Keperawatan: aplikasi pada praktik. Jakarta: EGC

Taylor C., & Lemone P. (1997). Fundamentals of Nursing. Philadelphia: Lippincott.